September 6, 2013

Hidup ini bukan pilihan andai hidup bisa memilih




Sepenggal coretan tentang kehidupan

Hidup ini bukan pilihan andaikan bisa memilih tiada yang mahu dilahirkan dari ayah dan ibu yang tidak amanah

Hidup ini bukan pilihan andai bisa memilih tiada yang mahu berjodohkan lelaki yang tidak amanah

Hidup ini bukan pilihan andai bisa memilih tiada yang mahu menjalani hidup ini seperti sebuah penjajahan. Tertekan! tidak mampu bangkit rasa sakit yang dirasakan seperti penyiksaan.

Siapa yang mampu memilih ketika dihadapkan dengan keputusan hak
Siapa yang dapat menghindar, saat kata-kata jadi hiasan untuk memenangkan perlombaan.

Yah! perlombaan. Berlomba dengan keinginan menguasai dari rasa penasaran karena sebuah keinginan. Akal dan logika seolah ditinggalkan. Yakin! Lalu perjalanan menyatakan jodoh telah ditentukan.

Lalu dimana pilihan ketika banyak orang berkata hidup adalah pilihan. Lalu dimana pilihan saat nasehat itu datang dan berkata, Andalah yang menjalankan, Andalah yang harus menentukan.

Kita bisa memilih! Kepada siapa hendak berbagi. Kita bisa memilih! Orang yang mana harus dihindari.

Kalau benar bisa memilih, manusia normal ada akal ada hati. Tapi sayang, hidup ini bukan pilihan hingga apa yang dihadapkan yang menjadi hak yang telah ditentukan maka "terima" kata akhir dari keputusan.

Pertemuan perpisahan bagian dari perjalanan tiada yang yang mampu menghindari. Sebagai hamba yang berTuhan hanya bisa berserah dan memohon perlindungan.

"Lindungi kami TUHAN! Lindungi diri dan hati ini dari kejahatan manusia yang tidak berTuhan. Ampuni salah dan khilaf kami, karena hati ini yang mudah berpaling".
**
Pilihlah hidupmu andai kamu bisa memilih sehingga tiada kata, "menyesal aku pernah bertemu orang seperti dia".

Pilihlah hidupmu andai kamu bisa memilih hingga tiada kalimat, "kemiskinan ini adalah kesialan terbesar yang pernah aku lakukan".

...Pilihlah hidupmu andai kamu bisa memilih... :(

Dan Tuhan bersama-sama orang sabar atas ketentuan yang ditetapkan padanya.