October 5, 2013

Pasutri itu seperti dua mata kunci




Pasangan suami istri itu seharusnya seperti dua mata kunci, bila yang satunya tidak berfungsi maka yang lain turut membantu, melengkapi, mengisi, berbagi dan merasa saling memiliki & membutuhkan. Walau pada kenyataannya bahasa "selalu ingin dimengerti" menjadi motto diantara kehidupan dua pasangan.

Mata kunci. Manusia pada dasarnya memiliki kemauan yang sama, kebebasan yang sama, penghargaan yang sama dengan satu rasa yang menyatu berpadu dalam satu hati menjadi satu jalan menuju harapan yang sama. Sama antara satu dan yang lainnya, satu dalam mata kunci. Keduanya bisa berfungsi kalau ada kesadaran kapan satu pelayanan harus dilayangkan. Kapan saya harus jadi pelayan, kapan dia harus melayani. Kapan keduanya saling melayangkan dan kapan ketenangan bebas pelayanan menjadi pilihan, melayani diri sendiri. Mata kunci itu jadi berfungsi.

Seperti contoh serial drama korea atau kehidupan keluarga barat dalam film-film yang biasa dilayangkan dilayar kaca. Laki-laki tidak merasa kaku atau malas mengerjakan kegiatan dapur, atau perempuan enggan membantu pekerjaan laki-laki, menjadi kapan-kapan sajalah! kalau ada kemahuan. Contoh kerukunan rasa sepenanggungan, saling memiliki bahwa ini adalah milikku, keluargaku, semangatku dan kehidupan pilihan hatiku sehingga tidak ada rasa canggung, malas dan ogah-ogahan dalam membantu memberi perhatian berbagi kesenangan diantara dua pasangan. Mata kungci kehidupan jadi berfungsi. Seperti contoh kehidupan masyarakat jawa tempo dolo.

Sehingga tidak perlu ada kalimat, "saya ingin dimengerti" tapi "pengertian kamilah yang berlaku" tidak egois tidak kaku dan rasa peduli diantara keduanya. Sehingga fungsi diri mengekspresikan rasa cinta jadi tertuang dengan sempurna. Cinta kita cinta kehidupan kita. Sama halnya yang di contohkan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam.

Karena itu jangan kaku atau enggan untuk saling membantu di antara satu pasutri sehingga mata kunci yang dimiliki keduanya jadi berfungsi.