November 21, 2013

Kurang Tambah Kelengkapan kata




Saya bingung mengartikan lengkap menulis kata. Jaman semakin canggih atau saya yang masih kampungan. Banyak sekali huruf yang ditambahkan dan banyak juga huruf yang di kurangkan dalam satu kata. Mungkin mengikuti tren gaya bahasa atau sekedar keren-kerenan, yang jelas masih belum paham.

Jadi teringat seorang ibu segala anak, begitulah saya memberinya julukan. Beliau wanita cerdas dan selalu memperhatikan ucapan yang akan di keluarkan terutama buat anak-anak dengan tingkatan usia. Kepada yang dewasa, remnya blong alias “Kepahaman dan Kamusan, tidak paham baca kamus tidak mengerti perhatikan kamus kehidupan. Orang dewasa itu terlalu kalau harus saya mengejanya kata demi kata.” begitu kata beliau.

Beliau tidak pernah mengurangkan satu huruf atau melebihkannya terlebih memodifikasi. Menurut “ibu segala anak”, ejaan kata yang kita keluarkan jadi perhatian dan contoh kepada pendengarnya karena itu perhatikan durasi dan penggalan kata sesuai dengan kemampuan cara menangkap anak. Kalau kita berkata, 'za' dari kata 'saya' atau persamaan 'saia', Anda bisa bayangkan apa yang terjadi ? Istilah kerennya “suami kencing berdiri istri kencing berlari” karena contoh yang baik datangnya dari kepala rumah tangga diamalkan oleh istri dan jadi contoh kepada anak. Tiap orang adalah pemimpin dan lingkungan adalah binaan, tidak bisa dibayangkan kalau contoh salah yang kita berikan dan dikerjakan oleh oranglain.”

Kemudian saya teringat seorang sahabat yang selalu menulis capcay di setiap akhir komentar dan satu sahabat yang menyarankan saya menghilangkan kode unik pada kolom komentar. Alasannya simple, memudahkan pengunjung memberikan komentar. Kemudian saya bertanya pada sahabat lain, apa tujuan kata unik itu di sediaka ? Beliau menjawab untuk mengontrol komentar spam. Bagaimana pengaruhnya, kurang tambah kelengkapan kata ? Sangat berpengaruh pada ribot google saat membaca.

Bagaimana menurut sahabat ? Robot bisa membaca kata yang lengkap, anak balita belajar membaca ejaan kata yang benar. Lalu kita para komentator yang berbalas sapa kunjung mengunjungi blog sahabat, haruskah kembali melihat kamus buku dan kamus kehidupan atau les privat kepada beliau “ibu segala anak” ?

Saya masih bingung dalam hal ini. Bila ada sahabat yang lebih paham, mohon kebaikannya untuk berbagi mengingat ilmu yang baik lebih berguna bila diamalkan.