February 19, 2014

Apa aku salah karena mengandung anakmu




Sumber google

Dalam sebuah perjalanan menuju rumah sakit, ibu muda itu terus menitihkan air mata sembari mengelus perutnya yang kini terisi janin buah cinta mereka.  Ia tak pernah habis pikir, apa salah dan dosaku hingga semua ini terjadi dan di sesali sebagai pembawa mala petaka dalam binaan cinta kasih kita. Akukah yang bersalah.. karena dengan mudah menyerahkan tubuhku ? Akukah yang berdosa memiliki rahim ini ? Tetes air matanya terus mengalir berharap menemukan jawaban yang tepat agar niatannya tidak terpenuhi. 

Putar roda mobil berlari cepat. Detak jam menunjukkan tidak lama lagi akan sampai. 
Ini benar-benar tidak masuk akal. Walaupun mungkin bisa di katakan aku wanita tidak pandai jaga diri, lalu apa mereka juga tahu batasan pergaulan ?  Kalau aku wanita di kata tidak tahu membawa diri, mengapa mereka merampok pembawaan lemah seorang wanita dan kini aku harus menanggung beban dari kesalahan siapa. 

Sedih nian hati gadis muda itu, ia tak tahu harus berbuat apa untuk membela dirinya dan kini harus menerima sendiri pisau-pisau tajam mencabik-cabik sebagian anggota tubuhnya.  Iapun tak menyalahkan pria yang menghamilinya, atau kesalahan yang harus ditanggungnya yang ia pikir bisakah mereka memahami bahwa ini bukan kesalahan siapa, tapi ini pertanyaan yang harus di jawab. 

“Kalau di kata ini adalah sebuah nasib, benarkah ada nasib buruk yang di sengaja saat melakukannya ? Mungkin di awal bisa saja tidak sadar, tapi setelah tergelak lemah tentu kesadaran itu ada. Dan janin ini bukan anakku tapi anakmu.  Aku hanya memiliki rahim tempatmu menitipkannya dan ia akan menjadi penerus turunanmu sedang aku hanya pelengkap menemani kehidupanmu”

Semoga hal semacam ini tidak terjadi pada pria yang mengaku mencintai wanita dan tega merampok kebebasan hak manusia untuk menjalani hidup.  Sehingga tidak ada anak-anakyang terlantar tanpa kasih sayang dan tanggung jawab ayahnya.