February 25, 2014

Umpan Si Janda Yang Malang




IniLah status yang mengerikan bagi seorang wanita, JANDA. Status yang terpaksa di sandang setelah berakhirnya kotrak jodoh, jodoh setelah bertemu lalu menikah dan berpisah. Bagi wanita yang sadar kecuali bercerai mati, ia akan sebisa mungkin menghindari terjadinya perceraian terlebih dalam binaan keluarga yang sudah cukup lama. Ikatan batin, kedekatan, kebiasaan bagian dari pengenalan pasangan sudah lebih cukup untuk saling terikat. Tapi ketika perpisahan itu tidak dapat di hindari lagi, seorang istri biasanya akan memberi penawaran pada suami agar ia ikhlas dan mampu menjalani hidup sebagai seorang istri.

Bahasa-bahasa atau kalimat-kalimat atau alasan-alasan wanita untuk tetap bertahan menyandang status seorang istri di antaranya;

Saya lebih suka menerima keanehan dari suami sendiri dari menjadi keanehan pria di luar sana

Saya lebih suka menerima kenakalan tingkah suami dari menjadi umpan lelaki iseng yang membuat saya lebih hina dari penjajah kenikmatan

Saya lebih suka di kritik kekurangan saya dari menerima sanjungan lelaki luar yang tidak memiliki ikatan apa-apa.

Lebih baik mempertahankan yang sudah ada dari memulai sesuatu yang baru belum tentu sama.
Dll.

Karena itu wanita akan memberi penawaran sesuai pemahamannya, baik di sampaikan atau tidak menjadi pertahanan akhir di jalankan sesuai kesepakatan bersama atau tidak kembali pada jodoh pernikahan. Yaitu,

Hargailah aku sebagai istri. Tempatkan aku baik di posisinya. Bebaskan aku berkarya demi buah hati DAN bagaimanapun derajadku lebih mulia dari wanita di luar sana. Karena AKU ISTRIMU.

Atau,
Wanita akan berlaku seperti itu dengan segala pemahamannya untuk tetap sabar menjadi seorang istri menjalani takdirnya berusaha untuk ikhlas sampai ia berkata, maaf… saya tidak sanggup lagi.
Biasanya, wanita yang memiliki paham seperti ini, lapar miskin kesusahan bukan kendala berarti baginya. Lapar seminggu tidak sampai membuat mati tapi kehausan tiga hari, kalau takdir pasti mati karena masih banyak mata air gratis untuk bertahan hidup. Keanehan tingkah suami di luar kewajaran asal tidak mempengaruhi keadaan dalam rumah masih bisa di pahami, asal tidak menjanda.

Kurang lebih seperti itulah pemahaman seorang wanita untuk tetap bertahan jadi seorang istri, anak-anak yang memiliki orang tua yang utuh dari berpisah cerai dan menjanda.

Intermezo,
Kalau janda muda gak papa kali ya..?? Punya anak satu atau dua. Tapi kalau janda tua, laku belum tentu.. Ketentuan status jelas. Haaaduuuh…. ^__°≈
***

Umpan Si janda Yang Malang

Ngerinya menjadi janda (Ngeri atau nyeri ??). Mahu bercanda bebas di sangka genit, mahu bergaul bebas di sangka kesepian, mahu bersosialisasi kemana-mana di kira pamer diri. Walaupun sebahagian wanita ada yang membela diri dan berkata,  yang penting pandai membawa diri dong ? Memangnya aman, wanita yang menjanda keluar rumah tanpa pengawalan di pandang baik! Didalam rumah terus, matang dong.

Mungkin iya, Pandai membawa diri tapi Umpan manis iseng dunia luar tahu bagaimana menyesuaikan diri. Anda berkerudung terlihat alim berkata-kata sopan dan santun, mereka juga akan datang menyerupai Anda pada hal Anda tidak tahu, itu hanya cara manis yang di sodorkan agar terpancing.

Kalau pembawaan terlihat terbuka, bebas bergaul bercanda tanpa batas, maka pancing yang di lempar umbaran peralatan pribadi dan ajakan buaian satu malam terlantun merdu di anggap biasa.
Terlebih bagi mereka yang sudah tidak memiliki perlindungan, seorang yatim piatu tiada tempat bernaung dan bersandar. Salah melepas hati salah memberi kepercayaan, hidup semakin tidak terarah, menggantung dan sakit cobaan terasa berlipat ganda.

Baiknya bagaimana ?
Bagaimana seharusnya.
Harusnya bagaimana ?
Ada yang tahu? Berbagilah di ruang komentar. Thaks!  Semoga membawa kebaikan bagi sesama.