March 17, 2014

Berbicara dengan orang-orang pintar membuka pemikiran baru




Siapakah orang pintar yang di maksud ?
Siapa saya, apa pekerjaan saya ? Siapakah dia orang pintar yang saya maksudkan ?

Hari ini saya duduk merenung setelah selesai membersihkan tumpukan sampah yang seakan telah menahun menumpuk di pinggir tempat tinggal saya. Rasa lelah akibat dari kurang istirahat pikiran yang terus berjalan membuat tubuh saya sedikit lamas tidak bertenaga dan lesu.

Semua berkat hujan semalam. Debu dari tanah kering akibat panas, sampah yang melekat pada tanah akibat injakan pengguna jalan membuat sampah melekat menumpuk dan butuh air untuk menenangkan debu mengangkat sampah dan membersihkannya dengan baik.

Yah…?? Saya bukanlah siapa-siapa. Buat anda tentu bukan apa-apa, tapi bagi anak-anak yang saya lahirkan tentu saya sangat sesuatu dalam kehidupan mereka. Dan, saya adalah seseorang yang memegang pengaruh dalam kehidupan mereka. Sedikit profil tentang siapa saya.

Kemudian lamunan yang hantar perasaan saya dalam situasi yang tidak bisa di sesuaikan dengan keinginan saya atau sesuai dengan realita kehidupan bahwa saya seorang ibu yang seharusnya tidak di pisahkan dari anak-anak lahir yang sudah sepatutnya saya adalah seorang guru langsung bagi mereka, tapi kenyataannya hal itu terjadi.

Apa yang anda pikirkan ?
Saya tidak mampu menguraikan perasaan saya menggambarkan kerinduan saya, rasa yang berkecamuk seorang guru yang kehilangan profesional kerjanya. Memendam perasaan, keinginan, harapan-harapan yang dulu tersusun rapi dan kini hanya tinggal agenda usang yang berlumuran debu dan sawang laba-laba.
Apakah anda bisa membayangkan apa yang saya tuangkan ?

Kemudian berbicara dengan orang pintar, siapa dia ?

Lima belas menit tangan saya menglik beberapa media sosial dan mulai bermaya. Ini tentang profesional para penulis terkemuka blogger sejati. Mengingat hobbi saya adalah membendaharakan kata menjadi kalimat unik yang mudah dipahami, bagi saya, iya!  Dan insha ALLAH manfaat atau hanya sekedar menyalurkan hobbi.

Saya tidak pernah peduli tentang apa pendapat orang lain tentang saya. Ya. Ini kalimat egois saya. Selama saya tidak masuk dan menjadi sebab malapetaka bagi kehidupan oranglain, bagi saya, ini semua aman dan baik saja.

Dan disana, pada sebuah blog yang membahas tentang hal-hal seputaran kehidupan menulis, ini bahasa saya. Lamunan saya berakhir dengan sendirinya, air mata yang sempat menemani ketidak berdayaan, berhenti dan sisa sembab dan sedikit bengkak pada kelopak mata karena tangisan seminggu mengikuti.

Pikiran saya terbuka.
Begitu pandai orang-orang profesional itu menuangkan kata dalam sebuah kalimat dan menjadi bacaan yang aturannya saya yang sudah lama tidak bersekolah sedikit kurang paham dalam beberapa hal. Tapi pada kesempatam ini, pikiran saya di ajak berinteraksi dan disediakan kalimat sederhana untuk dipahami. Luar biasa. Itu yang ada dalam kesan saya pada akhir bacaan.

Kemudian saya mengambil kesimpulan, atau bisa dikatakan tersimpul sendiri setalah saya mengalami beberapa hal dalam kehidupan saya, Bahwa, orang-orang pintar itu adalah bagian dari keingintahuan saya dan Tuhan berkehendak mengarahkan saya untuk bertemu dengan mereka.

Pada sisi lain, bahwa perasaan dan pikiran yang terus berputar akan hilang dengan sendirinya bila Anda tahu kepada siapa hendak bersosial.

Kepada orang pintar ?
Kepada orang yang sok pintar ?
Kepada orang bodoh yang pintar ?
Atau kepada ALLAH Zat yang mengepalai semua otak yang menyatakan diri mereka PINTAR!

Dan tertulislah curahan hati saya pagi ini.