March 13, 2014

Wanita yang turun dari plat hitam putih




OSiang bolong memecah jalan poros sentani abepura.
“beli…..??? “
Suara anak kecil memanggilku dengan kuat di arah depan. Karena panas, aku berpikir ngaso dulu barang 15 menit di belakang rumah.
“pesan 3 mama fitri ??? Yang coklat“

Tanganku bergegas menyelesaikan permintaan pelanggan. Sesekali mataku melirik laju kendaraan yang tiada henti didepan jualan. Hem…. benar-benar panas hari ini tapi aktifitas orang-orang pencari nafkah lebih lincah dari menunggu panas reda dan makan malam yang menuntut harus!  Untuk kampung tengah perut keluarga.

Dan, ehem!  Tiga ekor bapak-bapak pengamat gerak lincah warga kampung harapan menangkap signal tajam dari sebuah kendaraan berplat hitam putih yang berhenti sekitar 30 meter dari tempat mereka berdiri.

Satu memberi isyarat, dan 6 mata mengarah panah mendeteksi siapa yang turun siapa yang didalam.
“coba lihat, ini anu itu apa anu ini itu anu…
Satu kalimat isinya peristiwa pepatah kuno yang meluncur dari mulut seorang yang lebih tua dari mereka bertiga.

Saut bersaut, satu cerita mulai dikembangkan dan tanpa mereka duga, langkah kaki wanita itu menuju ditempat mereka berdiri.

Tanpa rasa bersalah, pria tua itu menegurnya dan bertanya asal mula perjalanan hingga ia wanita itu diturunkannya jauh dari tempat biasanya.

Tapi apa jawab wanita itu, “loh!  Apa urusannya! Mau turun dibulan kek, dibintang kek!  Barang, barang saya. Badan, badan saya. Yang buka kaki digilir orang naik, terserah saya mau pilih yang mana jadi korban, asal mereka siap saja bukan masalah! “

Serentak 3 bapak-bapak itu tertawa terbahak-bahak. Kemudian salah satu di antaranya teralih perhatian oleh pengendara motor yang lewat dan satu yanglainnya pergi mencari sesuatu tinggal bapak yang lebih tua yang masih menemani wanita yang turun dari plat hitam putih itu. Kemudian, entah apa yang mereka bicarakan, wanita dan bapak itu sudah jalan beriringan untuk satu tujuan.**

“Selesai. Ini pesananmu sayang!
Tiga pesanan dari anak kecil tadi. Kata trima kasih dan kembalian, ku hantar senyuman untuk anak kecil itu dan pikiranku bingung mendengar obrolan aneh tiga bapak-bapak dan wanita yang turun dari plat mobil pribadi hitam putih.

Pikiranku benar-benar menerawang jauh. Sesantai itukah menyikapi hidup ?? Seorang wanita yang bebas mengawali dirinya kemana saja tanpa rasa cemas dan was-was. Tetap tersenyum dengan wajah ceria walau seribu mata mengarah dan mengunjingnya. Dia masih tetap tegar dan kuat menjalani keras hidup ini dan masih tersenyum.

Peristiwa hidup siang yang memecah. Seorang wanita yang turun dari plat hitam putih dan tiga bapak-bapak pengamat kampung harapan.
Hemmm……. Akupun tersenyum mengakhiri kebingunganku.

Selesai.