Bersikap Bijak Dengan Naiknya BBM

Salam..Sahabat blogger kita tahu tahu sejak diumumkannya kenaikan harga BBM banyak hal terjadi seperti Demo para mahasiswa yang tentunya demo tersebut bukan cermin solusi bagi penyelesaian masalah. Apalagi tak elak selalu ada anarkis dari tindakan demo.

Selain itu saya melihat umumnya masyarakat itu bisa menerima keputusan pemerintah apapun itu. Malah dengan demo yang selama ini saya lihat justru mengganggu aktivitas masyarakat. Saya sebagai warga sangat menyayangkan hal ini. Meski tidak menutup kemungkinan bahwa anda yang sedang membaca akan berbeda pendapat dengan saya tentang naiknya BBM bukan?...

Saya ingin memberikan gambaran sedikit tentang BBM bahan bakar minyak di indonesia dan jepang yang kita ketahui negara jepang merupakan negara maju. Ini saya sadur dari FP KDJ ( kehidupan di jepang ). Semoga bisa jadi bahan renungan buat kita yah!..

Di Jepang BBM tidak di subsidi atau sekira  (Rp.16 ribu/liter).
Setelah hampir 17 tahun tidak ada kenaikan pajak, sejak 1 April 2014, pajak konsumsi (pajak setiap membeli barang) di Jepang naik dari 5% menjadi 8%, demi menutupi kekurangan anggaran belanja
pemerintah. Dan kabarnya akan naik lagi hingga mencapai 10%.
Apakah ada demonstrasi??.... TIDAK ADA.

Padahal UMR tidak naik, salut dengan mental orang Jepang.

Sementara di Indonesia, BBM baru naik Rp. 2000 saja demonstrasi ada dimana-mana, apalagi kalau subsidi BBM dihapus.. Apa yang akan terjadi?

Harga BBM di Jepang tergolong mahal karena tidak ada subsidi BBM sama sekali dari pemerintah, yaitu sekitar 155 yen/liter (Rp. 16.000/
liter). Karena subsidi tidak dalam bentuk harga BBM yang murah. Karena subsidi dalam bentuk harga BBM murah akan mengakibatkan jumlah kendaraan pribadi membludak, kemacetan dimana-
mana, dan polusi udara meningkat.

Akibat dari harga BBM yang tinggi (tidak disubsidi), didukung dengan mahal dan sulitnya memperoleh SIM (kurang lebih 300.000 yen, kalau dirupiahkan 30 juta),mahalnya pajak kendaraan pertahun (plat putih 3 juta rupiah/tahun), asuransi
kendaraan (sekitar 1 juta rupiah/bulan) dan biaya shaken (uji emisi kendaraan per 2 atau 3 tahun plat putih sekitar 15 juta rupiah), orang Jepang lebih suka bepergian menggunakan transportasi
umum (bus, kereta bahkan sepeda onthel) karena lebih hemat, nyaman, aman dan tepat waktu dan
tidak capek.

Padahal harga kendaraan disini jauh lebih murah daripada Indonesia lho.
Bandingkan dengan kebiasaan orang Indonesia, ke warung dekat rumah aja lebih suka naik motor
daripada jalan kaki. MANJA banget ya..

Dengan naiknya harga BBM saya yakin konsep transportasi umum di Indonesia dalam tahap LANGKAH AWAL menuju negara maju seperti
Jepang.

Tergantung mental kita, mau MAJU atau mental SUBSIDI alias MINTA-MINTA...

Kembali ke Jepang... Subsidi pemerintah Jepang tergolong tepat
sasaran, lebih ke pendidikan dan jaminan sosial. SD sampai SMA gratis kalau sekolah di sekolah
milik pemerintah (negeri). Fasilitas lengkap dari gedung, alat belajar, sarana olah raga (terkadang di sekolah ada juga yang memiliki kolam renang), semuanya GRATIS.

Jika ada pengeluaran itu hanya
untuk kegiatan tambahan dan makanan untuk para siswa. Subsidi juga diberikan dalam bentuk asuransi kesehatan. Orang dewasa hanya membayar 30% dari total
biaya berobat, anak-anak gratis, manula hanya 10% dari biaya pengobatan.

Bahkan pemerintah Jepang memberi subsidi dan memberi dana untuk ibu melahirkan. Bukan hanya itu pemerintah juga memberi subsidi
untuk apartement murah (danchi/public housing) bagi keluarga yang kurang mampu. Manula yang sudah tidak bisa bekerja pun mendapat jaminan pensiun (nenkin) tiap bulan
yang cukup buat hidup sederhana di Jepang.

Di Jepang BBM mahal tapi TIDAK ada yang DEMO,karena ada yang jauh lebih penting daripada
menuntut BBM murah. yaitu PENDIDIKAN, JAMINAN HIDUP dan KESEHATAN.

Mari kita bayangkan bersama negeri yang rakyatnya tidak ada orang sakit yang tidak mampu berobat, tidak ada anak yang tidak mampu sekolah karena biaya sekolah.
Negeri kita adalah negeri yang kaya, INDONESIA bisa jadi negara maju dan besar bila saja MENTAL kita tidak MANJA.

Mungkin inilah yang dimaksud Bpk Jokowi tentang Revolusi Mental. Patut kita tahu untuk menjadi negara maju itu bukan dari peran pemerintah saja, melainkan kesadaran dari warganya, untuk kreatif dan berpikir untuk 10-20-100 tahun kedepan, bukan berpikir untuk kebutuhan saat ini, tapi untuk anak cucu kita dimasa datang. Pernah kita sebagai warga Indonesia berpikir jika suatu saat warga pengangguran juga bisa digaji oleh negara, dan untuk mencapai itu diperlukan pola pikir membangun yang prosesnya harus SAKIT-SAKIT DAHULU. REVOLUSI MENTAL
Untuk Indonesia yang lebih baik...

PALING POPULER

Yang perlu lelaki tahu ketika perempuan marah tanpa sebab

Cara Membuat Perahu dari Botol Pelastik

Semua Tentang Pisces

Pasangan Anda Pergi ? Coba cara ini untuk memenangkannya kembali

Manfaat Belut bagi kesehatan wanita