Gagal Fokus Karna Pertanyaan Anak. Yang terakhir Mengiris Jantung

Semula saya berpikir semua akan baik-baik saja, tak ada yang perlu terlalu di khawatirkan! Joko 2 stengah tahun dan yusuf 1 stengah tahun, selisis satu tahun menurut saya masih bayi yang ngomong saja belum begitu jelas. Dengan perhatian yang cukup, terutama membiarkan ia bergembira dengan kesibukannya bermain, ia akan lupa kejadian terakhir kehilangan pria yang ia panggil bapak akan berjalan normal.

Hari pertama memang sedikit mengkhawatirkan. Hampir 10x joko bertanya dimana bapaknya. Malam harinya, joko terserang demam sambil duduk menangis dan bertanya, "bapak mana ? Bapak jalan, bapak mana ma ?" Air mataku tumpah di keheningan malam. Obat penurun panas sebagai penolong tidur nyenyaknya.

Sambil mengelus punggung joko dalam pelukan, aku berbisik meminta ia sabar dan segera tidur.

Esok pagi, joko bangun lebih awal dari biasanya dan berada di kios memegang kawat penghalang tempat jualan. Aku otomatis terkejut waktu menyadari ia tak ada. Ini terlalu pagi dari biasanya ia bangun.

Waktu sadar kehadiran seseorang di situ, joko langsung berbalik dan memeluk kakiku, di sangkanya aku bapak yang sedang di tunggunya.

Bermain di siang hari, ada seseorang pembersih halaman suruhan tetangga. Joko segera berlari dan bertanya pada orang itu, " om, bapak mana ? Bapak mana e om ?? Dan tangisannya pecah histeris. "Bapak jalan... bapak jalan om........

Hari ini joko sama sekali tak mau makan. Wajahnya pucat, badannya semakin kurus. Joko tak ingin beranjak dari kawat kios menunggu bapaknya pulang. Setiap orang yang lewat ia tanyai satu persatu. Sampai akhirnya joko melihat sebuah motor metik honda datang menghampirinya, joko terkejut, harapnya ingin mendekat tapi tubuhnya menolak, "mamak ning! Bapak jalan... bapak mana..." wajahnya mendung dengan mata berkaca-kaca.

Oh TUHAAANN....

Menjelang sore, joko hanya diam memperhatikanku dari jauh. Selera mainnya hilang, di goda yusufpun ia diam saja. Matanya terus mengikutiku. Mengetahui itu, joko aku suguhkan permen kesukaannya, biasanya joko paling tawar dengan permen tapi kali ini tanganku di tapih sampai permen jatuh berhamburan.

"Sini sayang.., mama kasih lihat bapak". On line facebook aku perlihatkan foto pria yang ia panggil bapak. Joko hanya terdiam, begitu pula yusuf tapi waktu foto aku ganti, joko melarang dengan menarik tanganku. Lalu ku kembalikan ke gambar semula. Joko terus memperhatikan tanpa ekspresi apa-apa. Aku perhatikan dia, seolah-olah joko berharap bapaknya keluar dari dalam handphone tersebut!

Aduuuhhh..... hati dan jantungku teriris! 😓😢😢

Aku kembali merenung dan tak mampu berpikir apa-apa. Segala keputusan sudah ku ambil, untuk memintanya kembali aku tak punya alasan yang tepat. Menurutku, dia tak punya salah untuk memikul beban kami, apalagi untuk mencintai kami sepenuh hatinya. Seperti halnya saya yang berharap hidup Normal, diapun demikian.

Saya hanya berharap joko tidak sampai jatuh sakit karena keadaan ini karena kedekatan mereka sebagai anak dan bapak. Mungkin satu waktu kalau ada ongkos, saya akan bawa joko menemui keluarga mereka. Kalau disana bukan hanya satu bapak yang akan joko temui tapi ada lebih pria yang sama yang akan menyapu keningmu dan menggendongmu dengan kasih sayang. Atau pindah kesana demi joko. Wallahu alam.

Melihat keadaan anak, pikiranku mati dan buntu. Tempat jualan ku biarkan terbuka tapi kami ( aku dan kedua anak ) masih berlaku biasa seolah ada yang di harap membawa sebutir beras. Rencana matang yang sudah ku susun baik, sementara ku abaikan dulu. Membiasakan mereka dengan keadaan yang sudah berubah menjadi prioritas utama. Terlebih aku tidak percaya oranglain untuk mengasuh anakku.

Sementara fokusku pada keadaan emosi mereka. Semoga ada perubahan segera dan terhindar dari keburukan lalai dan lupa.

Alhamdulillah..

PALING POPULER

Yang perlu lelaki tahu ketika perempuan marah tanpa sebab

Cara Membuat Perahu dari Botol Pelastik

Semua Tentang Pisces

Pasangan Anda Pergi ? Coba cara ini untuk memenangkannya kembali

Manfaat Belut bagi kesehatan wanita